Sholat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu 27 Mei 2026

Alikhlas – DKM Masjid Al Ikhlas Kebon Duren di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat menyelenggarakan Sholat Iduladha 1447 Hijriah pada Rabu, 27 Mei 2026 di masjid tersebut. Jamaah memenuhi ruang di lantai 1, aula sampai ke halam depan dan samping masjid.

Adapun bertindak selaku imam dan khtabib Sholat Iduladha adalah KH DR Agus Spurayogi, sedangkan hilal Dede Harun. Sholat dimulai tepat pukul 06.30 WIB. Sebelum sholat digelar, Ketua Panitia Iduladha menyampaikan sejumlah pengumuman. Salah satunya adalah jumlah hewa kurban kambing/domba sebanyak 35 ekor dan sapi  7 ekor.  Jumlah sohibul kurban adalah 78 orang.

Usai sholat, khatib memberikan khotbah dengan tema Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS. Khtabi menceritakan bagaimana Nabi Ismail tak lelah berdoa meminta anak meski usainya sudah tua. “Ya Allah, karuniailah hamba anak yang Sholeh.”

Setelah pukuhan tahun berdoa, Allah SWT mengabulkan dengan memberinya anak, Ismail. Belum puas memomong Ismail, Allah SWT memerintah Nabi Ibrahim untuk mengungsikan istrinya Siti Hajar dan Ismail ke sebuah lembah gersang yang kelak menjadi Mekkah. Sebelum meninggalkannya kembali ke Palestina, Hajar sempat bertanya mengapa mereka ditinggalkan di tempat tanpa kehidupan tersebut. Setelah Nabi Ibrahim menjawab bahwa itu adalah perintah Allah, Siti Hajar dengan ikhlas menerimanya karena yakin Allah tidak akan menelantarkan mereka.

Setelah persediaan bekal habis dan air susu Hajar mengering, bayi Ismail menangis kehausan. Karena panik dan ingin menyelamatkan anaknya, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari pertolongan atau sumber air. Usaha ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji dan umrah yang dikenal sebagai Sa’i.

Saat kembali dalam keadaan lelah dan melihat Ismail terus menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, atas izin Allah memancarlah air dari bekas hentakan kaki tersebut. Hajar dengan sigap mengumpulkan air tersebut sambil berucap “Zamzam” (kumpul-kumpul) agar airnya tidak meluber. Air ini menyelamatkan nyawa mereka dan tidak pernah kering hingga hari ini.

Berkat adanya mata air Zamzam, burung-burung mulai berdatangan dan menarik perhatian sebuah kafilah dari suku Jurhum yang sedang melintas. Mereka meminta izin kepada Siti Hajar untuk menetap di sana. Atas izin Hajar, lembah tersebut akhirnya menjadi pemukiman yang ramai, tempat di mana Nabi Ismail tumbuh dewasa dan belajar kearifan lokal.

Setelah itu, Allah menguji kembali keimanan Nabi Ibrahim melalui mimpi yang berulang selama tiga hari, mulai 8 dzulhijah, agar menyembelih putra kesayangannya tersebut. Mimpi seorang Nabi merupakan wahyu. Dengan penuh keimanan dan ketakwaan, Ismail meminta sang ayah untuk melaksanakan perintah Allah tersebut dan berjanji akan bersabar.

Saat menuju tempat penyembelihan, iblis mencoba menggoda Nabi Ibrahim dan Ismail agar menolak perintah Allah. Namun, godaan itu gagal karena keteguhan iman mereka. Sesampainya di Mina, Ismail meminta agar tangannya diikat, wajahnya dihadapkan ke tanah, dan pakaian ayahnya disingkirkan agar tidak terkena darah yang bisa mengurangi pahala. Ketika pisau digoreskan ke leher Nabi Ismail atas perintah Allah, pisau tersebut tidak mempan. Melihat ketulusan yang luar biasa dari ayah dan anak tersebut, Allah SWT menggantikan posisi Ismail dengan seekor domba (kibas) yang besar. (jh)